Esai Binhad Nurrohmat
Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 29 Maret 2009
Intimasi Puisi Penyair Metro
Metro merupakan kota dengan kompleksitas kultural. Kota ini dibangun 1930-an dalam rangka Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda di Hindia-Belanda.
---------
Masyarakat dari beragam suku besar di Pulau Jawa dan Pulau Bali dengan bekal cangkul, bajak, sapi, kerbau, palu, dan paku diseberangkan kapal Kolonial Belanda ke wilayah ini untuk membangun kota multikultur. Pendatang membawa tradisi agama, bahasa, niaga, bersawah, dan berladang. Pribumi tetap berkebun lada, cengkih, dan merica.
Pemerintah Kolonial membangun bendungan, jalan raya, pasar, sekolah, stasiun, dan kantor pemerintah. Pendatang bertetangga dan berbaur dengan pribumi, yaitu masyarakat suku Lampung. Banyak nama kampung di wilayah ini seperti nama kota asal pendatang. Nama Metro bisa jadi kependekan dari kata metropolitan atau berasal dari bahasa Jawa mitra (rekanan).
Metro merupakan eksperimen kultural sejak prakemerdekaan yang telah dan terus berproses nyaris seabad. Metro terus berkembang dan menjadi kota satelit yang penting di Provinsi Lampung. Sejumlah penyair menghuni kota ini. Mereka berasal dari beragam suku dan desa di wilayah Metro maupun dari kampung di luar wilayah Metro.
Para penyair Metro menulis puisi berbahasa Indonesia; yang didapat dari sekolah. Hanya di lingkungan keluarga menggunakan bahasa suku masing-masing; di luar rumah, mereka lebih banyak berbahasa Indonesia. Tidak seperti leluhurnya, mereka tak lagi mencangkul atau membajak dan mereka pun tak lagi mengolah kebun. Bahasa dan tradisi kehidupan para penyair merupakan salah satu bentuk mutakhir dari hasil proses eksperimen kultur di wilayah Metro.
Setelah rezim Soeharto berakhir pada 1998, terbit antologi puisi bersama yang terawal para penyair Metro yaitu 100 m dari Gardu Pos Kota pada 2007 (memuat ratusan puisi dari 7 penyair Metro) yang diterbitkan Dewan Kesenian Metro (berdiri pada 2003). Sebelumnya, penyair Lampung hanya identik dengan penyair Bandar Lampung.
Buku itu merupakan jejak baru yang penting dalam perpuisian Lampung di luar Bandar Lampung. Meski estetika dan tema puisi penyair Metro masih serupa watak umum perpuisian nasional di negeri ini sebagaimana juga perpuisian penyair Bandar Lampung, yaitu intimasi (keakraban) dengan alam melalui ekspresi bahasa lirikal dan liris.
Dalam Sajak Pepohonan, Sholihin Ardy menulis: sehelai daun bercerita kepadaku/"aku hanya menunggu waktu". Intimasi terhadap alam dalam puisi ini menciptakan komunikasi antara sehelai daun dan manusia.
Dalam puisi Nompi Kurniawan berjudul Kutu tersimak pengakuan seekor kutu: aku ingin seperti burung/menembus awan memanjat/cakrawala/lihat sawah, gunung, pantai, bukit./aku benci hidup jadi kutu" ucapnya pada burung saat hinggap di bulunya.//dan burung itu mematuknya./
Alam merupakan habitat manusia yang intim dan menjadi medium dan bahan utama ekspresi puitik penyair dari zaman ke zaman. Pohon dan satwa, angin dan hujan, sungai dan batu, maupun langit dan bulan merupakan sumber kosakata yang ramai dalam sejarah perpuisian di negeri ini, juga dalam perpuisian di Metro. Watak alam yang harmoni membentuk watak manusia yang menghuninya dan tercermin jelas dalam tata-bunyi dan tata-imaji bahasa puisi yang lirikal dan liris.
Alam yang direnungkan atau menjadi sumber kontemplasi dalam puisi mirip watak filsafat pra-Sokratik yang terpukau dan terilhami kenyataan alam. Intimasi terhadap alam melahirkan kontemplasi yang melahirkan alam pemikiran fisikal (filsafat alam) seperti kosmogoni dan kosmologi pra-Sokratik dan juga menyembulkan imaji spiritual-relijius misalnya dalam puisi Ahmad Muzakki Antara Angin dan Halilintar ini: antara angin dan halilintar/sabtu malam/alif-alif/mati./
Intimasi terhadap alam merupakan kewajaran dalam filsafat maupun seni dan alam mengilhami ide, amsal, imaji, metafora, atau pertautan dengan kebudayaan manusia. Misalnya, petikan puisi Erwin Syah Sepenggal Batas ini: akar tak bertemu batu/pohon tak bertemu daun//seperti bahasa tua yang tak pernah terucap/ribuan tahun/.
Bahasa merupakan produk kebudayaan manusia dan puisi ini mengamsalkan bahasa leluhur yang sudah punah dengan kosakata yang dijumput dari alam.
***
Begitulah gambaran intimasi terhadap alam yang berlangsung dengan mempertahankan watak harmoni alam dalam puisi para penyair Metro. Dalam puisi-puisi itu alam dipuja, direnungkan, atau dijadikan sumber ide, amsal, imaji, metafor, atau dipertautkan dengan kebudayaan.
Ada intimasi terhadap alam yang nonharmoni atau melakukan penyelewengan misalnya petikan puisi Zulaihatul Mahmidah Gerimis Tampak Sepi ini: hanya rinai/yang diam-diam kembali//dan menjelma bubuk-bukuk tembaga.
Petikan puisi ini merupakan keganjilan yang amat tajam karena alam (yaitu rinai hujan) melahirkan kebudayaan secara langsung atau tanpa campur tangan manusia (yaitu bubuk tembaga). Atau, barangkali puisi ini merupakan kritik ekologis yang menggambarkan kerusakan alam akibat polusi secara simbolik.
Selain itu, juga ada intimasi terhadap kehidupan masyarakat yang melahirkan sebentuk intervensi, misalnya petikan puisi Mahmud Akas Sajak Buat Penguasa ini: Di antara karung-karung para pemulung, pedagang kaki lima,/pengemis jalanan, rumah-rumah kardus, kolong jembatan,/dan kotak-kotak sampah perkantoran/tempat engkau merumuskan nasib-nasib kami./
Petikan puisi ini melakukan campur tangan terhadap hubungan masyarakat dan birokrasi pemerintah yang tidak beres dengan menggunakan bahasa yang dijumput dari lingkungan kosakata non-alam. Tak ada suara burung dan deru angin dalam puisi ini. Kenyataan masyarakat memenuhi ruang puisi ini.
Jejak awal perpuisian para penyair Metro pascarezim Soeharto menampakkan kompleksitas jamahaan persoalan serta keragaman tema dan sudut pandang. Alam serta manusia dan kebudayaan yang hadir dalam puisi penyair Metro merupakan wujud intimasi terhadap diri, alam, masyarakat, dan kotanya. Melalui puisi-puisi itu, Metro dibaca oleh mata batin para penyairnya dan dihadirkan bukan melalui statistik demografi, tingkat pendapatan ekonomi, maupun jumlah angkotnya, tapi melalui puisi.
Akhir kata, puisi merupakan bentuk tanggung jawab tertinggi penyair dalam masyarakat. Tindakan seorang penyair adalah puisi yang dipublikasikan ke masyarakat; buku ini merupakan contoh konkretnya.
kita pasti masuk surga bung jangan khawatir... Tuhan menciptakan Surga untuk dihuni hambanya... Mereka adalah para penghuni Surga...
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Februari 2012
Rabu, 04 November 2009
Puisi-puisi solihin ardy rangkuti
Sebentuk mimpi
pada sebuah pagi
ranting matahari masih menyempit di dedaunan rimbun
ia mengejar mimpi malam tadi
dari sisa waktu yang tergores di jalan yang selalu dilalui
cekah matahari tertutup butir-butir embun
menggumpal di ujung matanya
”mungkin saja salah arah,
sayang sekali, mimpi malam tadi tidak meninggalkan alamat”.ia bergumam
tubuhnya merekat pada angin dan mencecah bulu-bulu kabut
agak bersisik dan serasa dingin
sebab butir-butir embun masih tersisa di dedaunan dan semak
di ambang siang
ia sampai pada arah mimpi yang lain
di perkampungan sunyi
hanya beberapa penduduk tinggal di sana
anak-anak terasing di ujung mimpi yang gelap
laki-laki dan perempuan terpisah tapi tetap berdekatan
mereka menganyam waktu agar tetap muda
menjelang sore
ia menghampar tikar dan merebahkan tubuh
hayalnya bergelayut diterpa angin
mengingat-ingat mimpi malam tadi
bertemu anak-anak yang terasing
di perkampungan sunyi
ia tersentak
mengendap
dan terjebak dalam mimpi
agustus,
Kepada kekasih
Metro, 21 april 2007
Dear,
minggu ini aku terkurung hayalku.Tak ada jalan keluar, kuperiksa sudut-sudut kamar ini dan semua terkunci, ada sedikit celah yang hanya cukup untuk keluar masuk napasku,
I miss you,
ingin kutumpahkan semua yang mengganjal di pikiranku, tapi ruang ini sesak, tak cukup menampung semua rindu yang kurekat di dinding kepalaku, rambutku mulai kusut, hanya sesekali saja jemariku membelainya.
Baby,
aku ingin melepas terali yang menghujam tubuhku, melepas rantai yang membalut ruhku, mengusir kangen yang menghimpit tubuhku, melebur jasadku yang tergolek bersama-Mu ruhku-ruh-Mu
Namanya Ali Topan
-senja di ufuk
bayangan
gelap
merengguk desai angin
dan malam kelam
tak ada yang peduli
pada waktu yang rapuh
di gedung-gedung walet
namanya Ali Topan , ia pandangi lampion pudar
biasanya tukang somay mangkal
hingga larut
di taman
sunyi
malam tinggal sepenggal
lamban
membentang jala maut
dan merekat di jalan-jalan
burung burung meninggalakan sarang
menanggalkan sayap di ranting-ranting pohon
dan menebar bulu-bulu di sekujur trotoar
-angin merayap
remang
di taman
Ali Topan lelap, terbungkus koran sisa hajatan
minggu ini liburan sekolah
pengemis pulang kampung
pemulung raib
tinggal perempuan-perempuan yang padat pinggulnya
dan Ali topan
kepak angin merendah
Pada pedagang kaki lima
Ia lipat kardus kardus yang tercecer
Ia teguk segelas cendol yang sedikit basi
lalu rebah
pagi menyiput
sebab malam tadi lembur di taman merdeka
Ali Topan namanya,
ulang tahun kota ini tak pernah ia rayakan
lalu langkahnya menuju taman
tapi sampah- sampah belum dibersihkan
ia telanjang
mencari bajunya yang hilang
mengacak rambutnya yang gimbal
melangkah
berpapas ajal
di gigir trotoar
Metro, Agustus 2007
Di ruang tamu
Ia ingat bening bulan
terendam mendung
cercap rintik
tiba tiba menjadi garang
merengkuh bulir - bulir hujan
ia menyusun rinai rinai
bertabur dikoyak petir
diremas hujan
di ruang tamu
sebuah pas bunga kosong
bunga itu telah pergi bersama waktu yang gelap
bunga yang kau tanam di musim gugur
akarnya memercik sunyi
daunya meretas air mata kita
menjadi buih rindu
membatu
Rumah-rumah bisu
I
kau tinggaldi sini
rumah-rumah bisu
warna-warna nasib melekat di bibirmu
warna yang tersisih dari serbuk-serbuk debu
yang melintas tiap hari
menyisir rumputan dan berkeliling pagar
gedung-gedung baru
di rumah-rumah bisu
cita-citamu hanya semu
-Menjelang sore
kau nanti suara mereka
hingga gema bedug maghrib
tak singgah di ruang ini
lalu sepi membalut petang
-Petang menjulang
kau sempat dengar isyarat
sepanjang tembok rumah ini
langit lebam bergegas kelam
lalu terantuk guyur hujan
lampu menjadi padam
hanya tersisa binar ublik menelusup mata mereka yang membilis
merekat dalam pekat
II
mereka bercakap-cakap,
merintih dan tertawa
padamu yang singgah sejenak
terkadang mereka ungkap lewat huruf-huruf yang disusun di meja-meja
tembok tembok dan ranjang mimpi mereka
-Isya bergelayut
rempah-rempah doa membuncah
desah-desah mereka hangat mengguyur ruang
malam terus mengalir
tergerus semilir
dan hening merayapi tubuh-tubuh mereka
jam dinding berdetak lamban
berebut decak – decak dada mereka
mengiring retas air yang ditiris genting
III
-Paruh malam
semua membelam
lelap
di atas ranjang
ada isyarat yang terungkap lewat jemari yang muda
lalui guratan waktu dan catatan angin
kuncup fajar nampak merunduk
rebah di rumah-rumah bisu
Purbolinggo, 2006-2007
Tujuh bidadari mandi di kali
hari memang selalu tak berubah
tidak pula ditandai warna
padahal cukup tujuh hari
seperti tujuh bidadari yang sedang mandi di kali dengan warna pelangi yang sudah ditandai
hari senin anak-anak sekolah berebut warna
saling unjuk gigi
merasa paling hebat
warna merah paling disukai anak-anak
hari selasa warna itu luntur
menjadi blonteng-blonteng
tapi warna kuning masih bertahan
dan dipakai sampai hari sabtu
hari minggu warna tadi berbenah diri
menyusun kembali cara untuk menguasai
ada yang berkoalisi mencari dukungan paling tinggi
dan menghasilkan warna baru yang berbeda
tujuh warna tadi sudah ditinggalkan bidadari
kini mereka mandi sendiri di kali
membersihkan noda yang bercampur selama tujuh hari
warna putih tetap lusuh meski sudah dicuci tujuh kali setiap hari selama tujuh hari
kini warna itu mencari hari yang tepat untuk ditempati
mereka berputar-putar tujuh kali sehari selama tujuh hari mencari tujuh bidadari
yang mandi di kali
Bayang bayang waktu
air mata meleleh lagi
di senja yang garing menatap sunyi
hingga angin melenguh
mendekap sisa musim
di ceruk kenangan
tersimpan sengau luka
hingga gemerisik dedaun kering tak terdengar
aku setubuhi angin dan debu
lalu menyusun nisan
di kelopak mata senja
tentang esok?
hanya gurauan dari bayang bayang waktu
Kotabumi, September 2006
Paruh Malam
mimpimu terjerembab di pekat malam
sembunyi dari tatapan angin
dan rentang waktu
malam tinggal separuh
butir-butir sunyi mengikis
kulitmu yang lembut
semilir angin mengendus tubuhmu yang harum
jarum jam melangkah lamban dan mati
dikoyak pusaran hasrat
yang kau hirup sarinya
dalam satu nafas
dan
tatapanmu semakin liar
terhempas di seberang masa
tempat biasa kita berbincang
kau rebah dalam bayanganku
meratap
menjadi asing
bersanding bayangan yang sekian lama
hilang
lalu peluh mengalir
di gurat keningmu
airmata yang keruh
tak tampak nadi yang berdenyut
atau mata yang mengerlip
agustus, 2007
Isyarat angin
ia ingin hanyut di alir nadi-Mu
di bukit malam yang kasyaf
napas-Mu mengendap
di sela bibirnya
yang menghalau gigil
dan membakar berahi
di lubuk januari
tirai hujan
menutup waktu
merajam tubuhnya
lalu pusaran debu kembali ke tanah
mengurai ribuan pesan
yang lama tertimbun
kemudian menjelma rumput dan ilalang
debu-debu gegas merekat
mengukir warna daun yang masih muda
dan menawarkan padanya
tentang goresan-goresan hidup
yang tak selalu lurus
isyarat angin menyusun
garis hujan hingga teratur
lalu sepi setubuhi kelam
ia urung
menuai benih
bersama-Mu
januari 2007
Sebuah taman kecil
kami duduk di bawah pohon
menunggu pentil jambu jatuh
dan menyusun baris-baris puisi
lalu terbentang di tanah
kami tak sempat lagi menulis puisi
karna setiap kata yang kami rengkuh
selalu dilibas angin
yang diam-diam mengendap
di sebuah teras kecil
kursi bambu dan sebuah taman bunga yang sempit
rumput-rumput tumbuh di kursi itu
kami hanya menunggu kupu-kupu bermain dengan serbuk jambu
menabur kata demi kata menjadi bait-bait puisi
dan bergelayut pada dahan dan ranting
Februari, 2008
Bulan itu merapat
bulan itu merapat pada kaca kamarmu
dan berbisik tentang urai rambutmu
matamu basah seperti embun yang mencair menatap matahari
awan pasang di langit yang tenang
bintang-bintang terhempas di peraduan kamar
kau merantau di siluet mimpi
jalan pulang menjauh dari pintumu
angin mencecap pipimu
teriakmu lamban
“Aku ingin tenggelam dalam mimpiku”
dan karam di dalamnya
Januari, 2008
Pada seutas benang yang menjulur ke langit
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
Ode November
ada bincang dari atap yang bocor di dapur
dalam rumah kontrakan kita
mengisyarat malam runtuh
malam yang rusuh
butir air yang jatuh
dan lantai penuh
genangan
suaranya parau
seperti memanggil namamu
di sudut pintu
tubuhmu
masih menggigil
lelah
dikunyah
percik air
seperti rempah
air yang menetes itu berkisah tentang
hujan yang menunggu badai
badai yang menangkap petir
petir yang menari bersama sosok cahaya
melepas penat di udara
cahaya yang meleleh merupa rintik yang tajam
dari kelopak November
rintik itu menjadi bercak-bercak sajak
menempel pada tembok tembok yang kau cipta
di ruang ini
di sudut kamar kita
air bocor dari matamu
16 November 2008
Nisan Pada Cermin
- Kepada Ruh Suci
Ia antukkan kepalanya pada cermin
agar jasadnya menyatu pada cahaya di dalam
melambung, menembus ruang yang beda
menggapai ruh yang lepas dari ubun ubun
ia hirup secawan udara hangat
pada jasad purba mengembara
dalam mimpi terjal
ia melihat nisan yang tertulis namanya
pada sebuah tikungan
menghujam dahan rapuh di sisi senja
dari hujan yang keruh
ia menebar reranting kering
mengelilingi gundukan kabut
jelma pesanggrahan kramat
bongkahan ruh ruh tak bernama bersarang di sebagian kepalanya
mengakhiri tidur yang panjang
selembar angin yang ia lipat di atas awan
menjadi alas di gigir musim penghujan
dari matanya,
ia mencapai tangga langit yang penuh kawat berduri
ia membajak malaikat malaikat yang sedang membawa buroq
dari bumi mendekati matahari
lalu ia berenang menuju rimbun pohon yang berwarna merah
bersandar pada bebatuan yang sejuk
ombak yang bergulung di langit serasa dingin di kuduknya
nyala api yang berkerumun di kulit matahari mengusap kulitnya yang kasar
ia terapung di udara menerpa dedaun, pepohon, bebatu hingga hangat.
25 Desember 2008
Musim Hujan Di Rumahku
hujan baru saja merubung rumah kita
ada sebentuk rinai melekat pada bunga yang layu di teras
memberi tenggang pada ruh kamboja yang pergi - untuk kembali.
karna siang tak nampak di pelipis awan
lenis anak kita lelap
di kontrakan ini
sejuk melumuri jiwa jiwa yang lelah
rambutmu yang panjang kau lapih sepanjang bahu agar tak semrawut
seperti hidup yang kusut
agar hujan tak luber menggenangi rumah rumah penduduk
kau menyumbat setiap lobang yang terocoh dari setiap atap rumah
dengan pakaianmu
berulang kali
air menggenangimu
menerobos celah dinding yang belum dierat semen
hujan reda tiba tiba
matahari nongkrong di atap
meniris air yang melimbur
debu debu kembali kering nelusup wajahmu yang berseri menatap langit
menggapai burung burung yang bertengger di ranting.
Metro, 2008
Irama Kecipak
Senja baru saja beranjak
kau berlari mengejarnya menari dalam hujan
menantang mendung merah
tinggal di atap rumahmu
diam diam goresan cahaya memancar dari baris baris hujan
meliuk ikut irama kecipak
menari bersamamu
malam membentangkan sayapnya
berputar merekat bayang
berpancar dialir kilat
detik detik hujan semakin melamban
lolong azan menyela gemercik air
berjam jam kau menari
beribu bahasa yang hilang
hingga menyisakan rintik
dan tubuhmu gemelugut
kau tersenyum
percikan petir telah menghias dirimu
September, 2008
Selametan
tikar digelar
Orang orang sudah bersila memutar
Di pojok rumah menyan dibakar
genduri dimulai
ia menaruh sesaji
untuk ibunya yang tiap malam jumat menjenguknya
tapi ia tak berkata-kata hanya matanya yang penuh isyarat tanpa makna
pembacaan yasin dimulai
dan mata-mata meredup seperti lilin yang terkikis api
semuanya menguap
hanya tinggal dirinya yang tidak menguap
karna tak sempat ia isyaratkan rasa kantuk yang dalam
ia hanya mendesis di pojok
mengiringi aluna surat yasin yang masih didendangkan
Sajak Yang Tercecer
ribuan bait puisi tercecer di sekeliling rumahnya
dan selalu bertambah tiap waktu
ia selalu tersenyum ketika kutanyakan “kenapa tidak lekas kau susun bait-bait itu menjadi gundukan puisi yang dapat kau pajang di ruang tamu”
“aku akan menyususnya setelah dapat membuka beberapa bait yang terkunci”
matanya cekung dan kuyu.Mulutnya pun serasa berat menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaanku
aku temukan beberapa bait yang tercabik di kotak sampah
“ah,baris baris itu sisa buang hajat anakku,ia susah disusun dan kucampakkan di belakang rumah”
Senja Terdampar Di Pelabuhan
senja itu terdampar di pelabuhan
dan gerimis menjamah kita lewat desir angin
berbisik tentang hari yang masih tergolek di pesisir
kau tersenyum di perahu tua milik bapakmu
sementara air laut merah, sore itu
jejakmu tersimpan ombak yang mulai surut
pada sebuah petang yang menjulur ke tengah
bintang-bintang mulai berkedip-kedip di permukaanya
diterpa ombak silih berganti
jaring-jaring pun sudah terpasang
butir hujan menyekap
di kejauhan
penet, 2007
Sperma Angin
puisi-puisi ini mandul. Ungkapmu
ia tak terjamah sperma-sperma angin yang muncrat dari air hujan
sambil tersenyum kau kumpulkan bait-bait yang berserak
meski sisanya terbawa gerobak sampah
dijilati anjing
disosor bebek
dan diinjak-injak teman sendiri
puisi yang tersayat itu kau jahit kembali
kau balut lukanya dengan sapu tangan
bekas ingusmu
Metro, 2007
Topeng Anak Cacat
seperti biasa aku berlama-lama di kamar mandi
membersihkan noda yang mengerat tubuhku
sisa dosa siang kemarin
mengental di aliran darahku
sebab uang anak-anak cacat aku belikan sate dan sop buntut malam tadi
darahku muncrat lewat lambungku yang lelah menggulung
uang receh anak-anak itu
saluran napasku tersumbat di gerbang sekolah
tulang-tulang ayam yang kumakan tak sanggup dicerna
aku memasang topeng dan membingkainya dengan rapi pada wajah sendiri
menyumpal telinga dengan kapas yang luntur
memakai kacamata hitam
melipat nurani
menghampar seribu wajah
dan membuat topeng yang berbeda
dengan tanganku sendiri
merumuskan tujuan-tujuan yang tamak
Purbolinggo, 2007
Setelah Sarapan
Aku minum secawan teh di bawah rak buku yang masih kosong
Metro, 2007
Merajut Masa
matahari lambat merangkak pada candela rumah kita
dan kau sudah siap meminum rajutan akar ceplian
yang direbus ketika matahari sedang lelap
tetangga kita dengan sabar menunggu jendela papan terbuka untuk bertukar barang dan pamer gelang
kadang-kadang kita bercerita di bawah pohon rambutan
tentang masa yang telah usang
hingga matahari rebah di atas rumah kita
lalu kau bersandar pada sebuah tiang rumah menatap waktu dan dahan kelapa yang kering
Kotabumi, 2007
pada sebuah pagi
ranting matahari masih menyempit di dedaunan rimbun
ia mengejar mimpi malam tadi
dari sisa waktu yang tergores di jalan yang selalu dilalui
cekah matahari tertutup butir-butir embun
menggumpal di ujung matanya
”mungkin saja salah arah,
sayang sekali, mimpi malam tadi tidak meninggalkan alamat”.ia bergumam
tubuhnya merekat pada angin dan mencecah bulu-bulu kabut
agak bersisik dan serasa dingin
sebab butir-butir embun masih tersisa di dedaunan dan semak
di ambang siang
ia sampai pada arah mimpi yang lain
di perkampungan sunyi
hanya beberapa penduduk tinggal di sana
anak-anak terasing di ujung mimpi yang gelap
laki-laki dan perempuan terpisah tapi tetap berdekatan
mereka menganyam waktu agar tetap muda
menjelang sore
ia menghampar tikar dan merebahkan tubuh
hayalnya bergelayut diterpa angin
mengingat-ingat mimpi malam tadi
bertemu anak-anak yang terasing
di perkampungan sunyi
ia tersentak
mengendap
dan terjebak dalam mimpi
agustus,
Kepada kekasih
Metro, 21 april 2007
Dear,
minggu ini aku terkurung hayalku.Tak ada jalan keluar, kuperiksa sudut-sudut kamar ini dan semua terkunci, ada sedikit celah yang hanya cukup untuk keluar masuk napasku,
I miss you,
ingin kutumpahkan semua yang mengganjal di pikiranku, tapi ruang ini sesak, tak cukup menampung semua rindu yang kurekat di dinding kepalaku, rambutku mulai kusut, hanya sesekali saja jemariku membelainya.
Baby,
aku ingin melepas terali yang menghujam tubuhku, melepas rantai yang membalut ruhku, mengusir kangen yang menghimpit tubuhku, melebur jasadku yang tergolek bersama-Mu ruhku-ruh-Mu
Namanya Ali Topan
-senja di ufuk
bayangan
gelap
merengguk desai angin
dan malam kelam
tak ada yang peduli
pada waktu yang rapuh
di gedung-gedung walet
namanya Ali Topan , ia pandangi lampion pudar
biasanya tukang somay mangkal
hingga larut
di taman
sunyi
malam tinggal sepenggal
lamban
membentang jala maut
dan merekat di jalan-jalan
burung burung meninggalakan sarang
menanggalkan sayap di ranting-ranting pohon
dan menebar bulu-bulu di sekujur trotoar
-angin merayap
remang
di taman
Ali Topan lelap, terbungkus koran sisa hajatan
minggu ini liburan sekolah
pengemis pulang kampung
pemulung raib
tinggal perempuan-perempuan yang padat pinggulnya
dan Ali topan
kepak angin merendah
Pada pedagang kaki lima
Ia lipat kardus kardus yang tercecer
Ia teguk segelas cendol yang sedikit basi
lalu rebah
pagi menyiput
sebab malam tadi lembur di taman merdeka
Ali Topan namanya,
ulang tahun kota ini tak pernah ia rayakan
lalu langkahnya menuju taman
tapi sampah- sampah belum dibersihkan
ia telanjang
mencari bajunya yang hilang
mengacak rambutnya yang gimbal
melangkah
berpapas ajal
di gigir trotoar
Metro, Agustus 2007
Di ruang tamu
Ia ingat bening bulan
terendam mendung
cercap rintik
tiba tiba menjadi garang
merengkuh bulir - bulir hujan
ia menyusun rinai rinai
bertabur dikoyak petir
diremas hujan
di ruang tamu
sebuah pas bunga kosong
bunga itu telah pergi bersama waktu yang gelap
bunga yang kau tanam di musim gugur
akarnya memercik sunyi
daunya meretas air mata kita
menjadi buih rindu
membatu
Rumah-rumah bisu
I
kau tinggaldi sini
rumah-rumah bisu
warna-warna nasib melekat di bibirmu
warna yang tersisih dari serbuk-serbuk debu
yang melintas tiap hari
menyisir rumputan dan berkeliling pagar
gedung-gedung baru
di rumah-rumah bisu
cita-citamu hanya semu
-Menjelang sore
kau nanti suara mereka
hingga gema bedug maghrib
tak singgah di ruang ini
lalu sepi membalut petang
-Petang menjulang
kau sempat dengar isyarat
sepanjang tembok rumah ini
langit lebam bergegas kelam
lalu terantuk guyur hujan
lampu menjadi padam
hanya tersisa binar ublik menelusup mata mereka yang membilis
merekat dalam pekat
II
mereka bercakap-cakap,
merintih dan tertawa
padamu yang singgah sejenak
terkadang mereka ungkap lewat huruf-huruf yang disusun di meja-meja
tembok tembok dan ranjang mimpi mereka
-Isya bergelayut
rempah-rempah doa membuncah
desah-desah mereka hangat mengguyur ruang
malam terus mengalir
tergerus semilir
dan hening merayapi tubuh-tubuh mereka
jam dinding berdetak lamban
berebut decak – decak dada mereka
mengiring retas air yang ditiris genting
III
-Paruh malam
semua membelam
lelap
di atas ranjang
ada isyarat yang terungkap lewat jemari yang muda
lalui guratan waktu dan catatan angin
kuncup fajar nampak merunduk
rebah di rumah-rumah bisu
Purbolinggo, 2006-2007
Tujuh bidadari mandi di kali
hari memang selalu tak berubah
tidak pula ditandai warna
padahal cukup tujuh hari
seperti tujuh bidadari yang sedang mandi di kali dengan warna pelangi yang sudah ditandai
hari senin anak-anak sekolah berebut warna
saling unjuk gigi
merasa paling hebat
warna merah paling disukai anak-anak
hari selasa warna itu luntur
menjadi blonteng-blonteng
tapi warna kuning masih bertahan
dan dipakai sampai hari sabtu
hari minggu warna tadi berbenah diri
menyusun kembali cara untuk menguasai
ada yang berkoalisi mencari dukungan paling tinggi
dan menghasilkan warna baru yang berbeda
tujuh warna tadi sudah ditinggalkan bidadari
kini mereka mandi sendiri di kali
membersihkan noda yang bercampur selama tujuh hari
warna putih tetap lusuh meski sudah dicuci tujuh kali setiap hari selama tujuh hari
kini warna itu mencari hari yang tepat untuk ditempati
mereka berputar-putar tujuh kali sehari selama tujuh hari mencari tujuh bidadari
yang mandi di kali
Bayang bayang waktu
air mata meleleh lagi
di senja yang garing menatap sunyi
hingga angin melenguh
mendekap sisa musim
di ceruk kenangan
tersimpan sengau luka
hingga gemerisik dedaun kering tak terdengar
aku setubuhi angin dan debu
lalu menyusun nisan
di kelopak mata senja
tentang esok?
hanya gurauan dari bayang bayang waktu
Kotabumi, September 2006
Paruh Malam
mimpimu terjerembab di pekat malam
sembunyi dari tatapan angin
dan rentang waktu
malam tinggal separuh
butir-butir sunyi mengikis
kulitmu yang lembut
semilir angin mengendus tubuhmu yang harum
jarum jam melangkah lamban dan mati
dikoyak pusaran hasrat
yang kau hirup sarinya
dalam satu nafas
dan
tatapanmu semakin liar
terhempas di seberang masa
tempat biasa kita berbincang
kau rebah dalam bayanganku
meratap
menjadi asing
bersanding bayangan yang sekian lama
hilang
lalu peluh mengalir
di gurat keningmu
airmata yang keruh
tak tampak nadi yang berdenyut
atau mata yang mengerlip
agustus, 2007
Isyarat angin
ia ingin hanyut di alir nadi-Mu
di bukit malam yang kasyaf
napas-Mu mengendap
di sela bibirnya
yang menghalau gigil
dan membakar berahi
di lubuk januari
tirai hujan
menutup waktu
merajam tubuhnya
lalu pusaran debu kembali ke tanah
mengurai ribuan pesan
yang lama tertimbun
kemudian menjelma rumput dan ilalang
debu-debu gegas merekat
mengukir warna daun yang masih muda
dan menawarkan padanya
tentang goresan-goresan hidup
yang tak selalu lurus
isyarat angin menyusun
garis hujan hingga teratur
lalu sepi setubuhi kelam
ia urung
menuai benih
bersama-Mu
januari 2007
Sebuah taman kecil
kami duduk di bawah pohon
menunggu pentil jambu jatuh
dan menyusun baris-baris puisi
lalu terbentang di tanah
kami tak sempat lagi menulis puisi
karna setiap kata yang kami rengkuh
selalu dilibas angin
yang diam-diam mengendap
di sebuah teras kecil
kursi bambu dan sebuah taman bunga yang sempit
rumput-rumput tumbuh di kursi itu
kami hanya menunggu kupu-kupu bermain dengan serbuk jambu
menabur kata demi kata menjadi bait-bait puisi
dan bergelayut pada dahan dan ranting
Februari, 2008
Bulan itu merapat
bulan itu merapat pada kaca kamarmu
dan berbisik tentang urai rambutmu
matamu basah seperti embun yang mencair menatap matahari
awan pasang di langit yang tenang
bintang-bintang terhempas di peraduan kamar
kau merantau di siluet mimpi
jalan pulang menjauh dari pintumu
angin mencecap pipimu
teriakmu lamban
“Aku ingin tenggelam dalam mimpiku”
dan karam di dalamnya
Januari, 2008
Pada seutas benang yang menjulur ke langit
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
Ode November
ada bincang dari atap yang bocor di dapur
dalam rumah kontrakan kita
mengisyarat malam runtuh
malam yang rusuh
butir air yang jatuh
dan lantai penuh
genangan
suaranya parau
seperti memanggil namamu
di sudut pintu
tubuhmu
masih menggigil
lelah
dikunyah
percik air
seperti rempah
air yang menetes itu berkisah tentang
hujan yang menunggu badai
badai yang menangkap petir
petir yang menari bersama sosok cahaya
melepas penat di udara
cahaya yang meleleh merupa rintik yang tajam
dari kelopak November
rintik itu menjadi bercak-bercak sajak
menempel pada tembok tembok yang kau cipta
di ruang ini
di sudut kamar kita
air bocor dari matamu
16 November 2008
Nisan Pada Cermin
- Kepada Ruh Suci
Ia antukkan kepalanya pada cermin
agar jasadnya menyatu pada cahaya di dalam
melambung, menembus ruang yang beda
menggapai ruh yang lepas dari ubun ubun
ia hirup secawan udara hangat
pada jasad purba mengembara
dalam mimpi terjal
ia melihat nisan yang tertulis namanya
pada sebuah tikungan
menghujam dahan rapuh di sisi senja
dari hujan yang keruh
ia menebar reranting kering
mengelilingi gundukan kabut
jelma pesanggrahan kramat
bongkahan ruh ruh tak bernama bersarang di sebagian kepalanya
mengakhiri tidur yang panjang
selembar angin yang ia lipat di atas awan
menjadi alas di gigir musim penghujan
dari matanya,
ia mencapai tangga langit yang penuh kawat berduri
ia membajak malaikat malaikat yang sedang membawa buroq
dari bumi mendekati matahari
lalu ia berenang menuju rimbun pohon yang berwarna merah
bersandar pada bebatuan yang sejuk
ombak yang bergulung di langit serasa dingin di kuduknya
nyala api yang berkerumun di kulit matahari mengusap kulitnya yang kasar
ia terapung di udara menerpa dedaun, pepohon, bebatu hingga hangat.
25 Desember 2008
Musim Hujan Di Rumahku
hujan baru saja merubung rumah kita
ada sebentuk rinai melekat pada bunga yang layu di teras
memberi tenggang pada ruh kamboja yang pergi - untuk kembali.
karna siang tak nampak di pelipis awan
lenis anak kita lelap
di kontrakan ini
sejuk melumuri jiwa jiwa yang lelah
rambutmu yang panjang kau lapih sepanjang bahu agar tak semrawut
seperti hidup yang kusut
agar hujan tak luber menggenangi rumah rumah penduduk
kau menyumbat setiap lobang yang terocoh dari setiap atap rumah
dengan pakaianmu
berulang kali
air menggenangimu
menerobos celah dinding yang belum dierat semen
hujan reda tiba tiba
matahari nongkrong di atap
meniris air yang melimbur
debu debu kembali kering nelusup wajahmu yang berseri menatap langit
menggapai burung burung yang bertengger di ranting.
Metro, 2008
Irama Kecipak
Senja baru saja beranjak
kau berlari mengejarnya menari dalam hujan
menantang mendung merah
tinggal di atap rumahmu
diam diam goresan cahaya memancar dari baris baris hujan
meliuk ikut irama kecipak
menari bersamamu
malam membentangkan sayapnya
berputar merekat bayang
berpancar dialir kilat
detik detik hujan semakin melamban
lolong azan menyela gemercik air
berjam jam kau menari
beribu bahasa yang hilang
hingga menyisakan rintik
dan tubuhmu gemelugut
kau tersenyum
percikan petir telah menghias dirimu
September, 2008
Selametan
tikar digelar
Orang orang sudah bersila memutar
Di pojok rumah menyan dibakar
genduri dimulai
ia menaruh sesaji
untuk ibunya yang tiap malam jumat menjenguknya
tapi ia tak berkata-kata hanya matanya yang penuh isyarat tanpa makna
pembacaan yasin dimulai
dan mata-mata meredup seperti lilin yang terkikis api
semuanya menguap
hanya tinggal dirinya yang tidak menguap
karna tak sempat ia isyaratkan rasa kantuk yang dalam
ia hanya mendesis di pojok
mengiringi aluna surat yasin yang masih didendangkan
Sajak Yang Tercecer
ribuan bait puisi tercecer di sekeliling rumahnya
dan selalu bertambah tiap waktu
ia selalu tersenyum ketika kutanyakan “kenapa tidak lekas kau susun bait-bait itu menjadi gundukan puisi yang dapat kau pajang di ruang tamu”
“aku akan menyususnya setelah dapat membuka beberapa bait yang terkunci”
matanya cekung dan kuyu.Mulutnya pun serasa berat menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaanku
aku temukan beberapa bait yang tercabik di kotak sampah
“ah,baris baris itu sisa buang hajat anakku,ia susah disusun dan kucampakkan di belakang rumah”
Senja Terdampar Di Pelabuhan
senja itu terdampar di pelabuhan
dan gerimis menjamah kita lewat desir angin
berbisik tentang hari yang masih tergolek di pesisir
kau tersenyum di perahu tua milik bapakmu
sementara air laut merah, sore itu
jejakmu tersimpan ombak yang mulai surut
pada sebuah petang yang menjulur ke tengah
bintang-bintang mulai berkedip-kedip di permukaanya
diterpa ombak silih berganti
jaring-jaring pun sudah terpasang
butir hujan menyekap
di kejauhan
penet, 2007
Sperma Angin
puisi-puisi ini mandul. Ungkapmu
ia tak terjamah sperma-sperma angin yang muncrat dari air hujan
sambil tersenyum kau kumpulkan bait-bait yang berserak
meski sisanya terbawa gerobak sampah
dijilati anjing
disosor bebek
dan diinjak-injak teman sendiri
puisi yang tersayat itu kau jahit kembali
kau balut lukanya dengan sapu tangan
bekas ingusmu
Metro, 2007
Topeng Anak Cacat
seperti biasa aku berlama-lama di kamar mandi
membersihkan noda yang mengerat tubuhku
sisa dosa siang kemarin
mengental di aliran darahku
sebab uang anak-anak cacat aku belikan sate dan sop buntut malam tadi
darahku muncrat lewat lambungku yang lelah menggulung
uang receh anak-anak itu
saluran napasku tersumbat di gerbang sekolah
tulang-tulang ayam yang kumakan tak sanggup dicerna
aku memasang topeng dan membingkainya dengan rapi pada wajah sendiri
menyumpal telinga dengan kapas yang luntur
memakai kacamata hitam
melipat nurani
menghampar seribu wajah
dan membuat topeng yang berbeda
dengan tanganku sendiri
merumuskan tujuan-tujuan yang tamak
Purbolinggo, 2007
Setelah Sarapan
Aku minum secawan teh di bawah rak buku yang masih kosong
Metro, 2007
Merajut Masa
matahari lambat merangkak pada candela rumah kita
dan kau sudah siap meminum rajutan akar ceplian
yang direbus ketika matahari sedang lelap
tetangga kita dengan sabar menunggu jendela papan terbuka untuk bertukar barang dan pamer gelang
kadang-kadang kita bercerita di bawah pohon rambutan
tentang masa yang telah usang
hingga matahari rebah di atas rumah kita
lalu kau bersandar pada sebuah tiang rumah menatap waktu dan dahan kelapa yang kering
Kotabumi, 2007
Peri Kecil Dan Papan Tulis Solihin Ardy
“Hai cat itu belum aku aduk! pakailah batang bambu ini!” lalu aku melemparkan sebatang bambu belah kepada Bayu Angkoro Murko, yang mulai mengacak-acak cat yang sudah aku masukkan dalam kaleng susu.
Ruang ini tidak terlalu ramai karena sebagian besar kawan kawanku pergi ke luar pagar untuk membeli susu kaleng yang sudah kedaluarsa atau mencuri buah di perkampungan. Jendela-jendelanya pun sebagian besar sudah dimakan Nonor hingga serbuk-serbuk berjatuhan menerpa kasur dan bantal yang berwarna hitam bekas iler dan umbel. Sementara anak perempuannya saling bercerita tentang pelecehan-pelecehan yang sering terjadi terhadap mereka.Di wajah mereka jelas terlihan ekspresi ketakutan dan rasa sedih yang mendalam. Beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar asrama sudah mengetahuinya, tapi selalu diam dan menyembunyikan informasi tersebut. Mereka beranggapan hal seperti itu tak perlu dibesar-besarkan , karena anak-anak itu rasanya pantas diperlakukan seperti itu, sebab kebodohan dan kecacatan mereka sendiri. Toh tidak memberi keuntungan bagi mereka.
Semilir angin mnyentuh seluruh ruang ini. Hingga wajaku pun terasa sejuk dielusnya. Aku mulai mencurahkan perhatianku pada sebuah kanvas yang sudah siap kulukis, kuas demi kuas sudah kupakai menghias sebagian lukisan itu. Kerangka lukisan pun sudah nampak jelas berwujud.
Tiba tiba bayu mengguyurkan seluruh cat yang ia aduk di atas lukisanku
“Hei! Kau merusak lukisanku, itu kan cat hitam!”
“Memang harus hitam!”
“Tapi aku tidak butuh warna ini…”
“Aku membutuhkanya, juga kanvas ini!” ia menarik paksa kanvas itu ke hadapanya. Bercak cat muncrat ke mana-mana , hampir sebagian besar tempat dudukku tersiram cat hitam, bahkan baju yang kukenakan bersimbah cat.
Aku membiarkannya menguasai kanvas tersebut, karena hal seperti ini sering sekali terjada pada kami. Ketika makan bersama kami saling melempar air atau kuah sayur yang agak basi. Aku berusah melupakanya dan mengingat kembali sketsa lukisan yang sudah kutuangkan dalam kanvas itu. Lalu ide itu aku tuangkan pada sebuah lemari yang sudah tidak layak pakai. Pakaian-pakaian yang ada didalamnya pun aku lempar keluar. Lemari itu milik Bayu, setidaknya aku bisa membalas perlakuanya kepadaku dan melepas semua kejengkelan yang tertahan.
Aku mulai menggambar seluruh angan-angan yang masih tertinggal di kepalaku, Peri kecil dengan sayap yang sebelah kanan patah, ia setengah meringkuk di kuntum mawar yang sedang merebak pada sebuah lemari yang terkoyak.
Dipan patah dan papan rapuh di gudang belakang aku benahi untuk menyempurnakan lukisanku.
Diam-diam Bayu melirik lukisanku, ia menganggap lukisan itu seekor capung yang sedang menghisap sari. Aku membantahnya dan menjelaskan ide lukisan yang sedang aku kerjakan. Tapi dia menyangkal bahkan mulai marah. Kami pun bertengkar kembali dan saling lempar cat, hingga lantai dan tembok ruangan itu blepotan penuh cat membentuk lukisan-lukisan abstrak yang tak dapat dijelaskan. Aku terbiasa mengalah pada kawan-kawanku, karena mengingat umurku paling tua dan aku tinggal paling lama di asrama. Akhirnya aku putuskan untuk tidak berhubungan dengan bayu dalam melukis apapun, pendapatnya yang ngawur dan ingin menang sendiri, sering membuatku kesal.
Aku benahi lukisanku pada lemari itu, penuh taburan warna acak, penuh goresan luka-luka di permukaan, meyerupai asrama yang aku tinggali.
Ada sepotong lukisan yang tidak dapat aku tuangkan pada lemari, ada perasaan sunyi yang tiba tiba menyergap diriku, tubuhku menggigil dicengkram rasa benci dan dendam. Lalu aku mengurung diri di kamar mandi, untuk melewati kepenatan yang merubung kepalaku. Sebab di luar pun aku masih dikurung oleh pagar tembok yang tinggi. Berjam-jam aku sendiri di kamar mandi, tapi tak seorangpun yang peduli, hanya untuk sekadar mengetuk pintu buang air kecil atau mendobraknya karena menahan tinja, kurasa mereka mengira aku ingin bunuh diri? setelah melihat perkelahianku tadi pagi dengan bayu.
Akupun meronta menghujat Tuhan dan mendobrak pintu, lalu melompat pagar, berlari melepas diri dari takdir yang tidak bersahabat. Tuhan rasnya tidak adil kepadaku, kenapa Ia ciptakan aku dalam bentuk seperti ini.aku tak dapat bicara bahkan menyusun kalimat seperti kawan-kawanku yang normal.
“Pasti kau akan kembali untuk mengambil lukisanmu” ujar bayu yang tiba-tiba mengejarku dengan sepeda buntut. Rupanya bayu membuntutiku. Bahkan mengawasiku sejak dari kamar mandi.
Akupun kelelahan berlari sedemikian jauh.Kurebahkan diri pada sebuah lincak di pinggir jalan.kulihat samar-samar bayu tetap memburuku, hingga aku pun tak dapat menolak kehadiranya menemaniku. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikanya.tapi karena terlalu lelah ia pun urung menyampaikannya. Ia tetap diam bahkan menyelonjorkan kakinya lalu rebah di sampingku.
Kami berdua sangat lapar dan haus. Tapi tak sepeser pun uang yang tersisa di kantung celana sebab sudah habis kami belikan berbagai cat dan kanvas untuk keperluan melukis. Sebenarnya kami mendapat beasiswa yang cukup besar, tapi ibu asrama terlampau rakus dan tamak terhadap uang tersebut, sehingga kami pun tak jarang mencuri uang dan peralatan mandi milik kawan sendiri, bila tidak ada kiriman dari orangtua.
Aku dan bayu bersepakat menjual sepeda milik satpam asrama untuk makan dan perjalanan kami. Mencari arah yang tepat, menapaki waktu yang tertutup kabut menelusuri aspal-aspal pecah, menggapai masa depan yang sekian lama hilang. Aku setengah berbisik kepadanya.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Aku tidak mengikutimu”jawabnya lantang.
”tapi kau berada di sini?”
“aku mengikuti lukisan yang ada dipikiranmu”
Agaknya ia tahu bagian lukisan yang belum kuselesaikan. Tapi aku nyelimur agar dia tidak mengungkit kekurangan lukisan itu.
“Sudah kutuangkan di lemarimu semuanya!” aku coba menegaskannya.
“Masih ada yang kau sembunyikan” bayu memburu.
Aku diam sejenak , rasanya enggan untuk memberitahukan bagian lukisanku yang kurang.
“Aku hanya menyisakannya untuk perjalanaku. Sayap Peri kecil yang sebelah kanan masih belum aku temukan…”
“Ya, itu yang aku cari, sayap Capung yang sebelah kanan”
“Itu bukan Capung.! Capung tidak menghisap sari mawar”
“Peri juga tidak menghisap sari mawar”ia membantah.
“Dia tidak menghisap sari mawar tapi menghirupnya” aku mencoba memberitahunya dengan nada melamban.
Bayu pun terdiam agaknya ia mulai sedikit paham dengan penjelasanku tentang lukisan di lemarinya.
Kami melanjutkan perjalan menyusuri petakan sawah dan gundukan tanah yang cukup luas, hingga menjupai jalan berbatu cadas sebesar kepalan tangan kami. Matahari sangat terik siang itu sampai-sampai beberapa petani berteduh di gubuk-gubuk yang sudah reot,s ebagian kecil hanya meratakan galengan yang banyak ditumbuhi rumput.
Hidup macam apa sesungguhnya yang aku jalani ini? bertahun-tahun dikurung pagar tembok yang cukup tinggi, jauh dari keramaian dan pergaulan, apakah Tuhan sengaja menghukumku sehingga aku dikurung di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dikelilingi hamparan sawah dan ladang, agar aku tersadar dari sifat-sifat buruk yang sejak kecil nampak membatu di tubuhku. Tapi aku ingat sekali bapakku yang melakukan semua ini, dia telah membuangku di desa yang terpencil. Karna perbuatanya dengan ibuku, mereka menghindari azab Tuhan lewat diriku, padahal harusnya mereka yang dibuang tapi kenapa aku?. Sejak saat itu aku sudah membuka permusuhan dengan orang tuaku, aku tidak memiliki bapak dan ibu, aku lahir dari rahim Tuhan, dari kesenangan-Nya, lalu aku menjadi bagian dari permainan orang-orang dungu yang tamak dan serakah sebagai bahan eksploitasi untuk keuntungan mereka yang mengabdi pada kebutuhan strata sosial dan eksistensi.
“Hei bagaimana dengan lukisanmu?”aku menyela percakapan dalam pikiranku. Aku lihat sejak tadi bayu termenung cukup lama.
“Sebenarnya masih ada yang kurang dari lukisanku”
“Apanya yang kurang?, cat hitam itu sudah kau tuangkan semua dalam kanvas”
“Papan tulis itu ada kapurnya!”. Bayu menegaskan idenya sambil mengusap hidungnya yang penuh ingus.
Aku hanya terdiam, mengangukkan kepala. Bayu adalah anak yang teridentifikasi sebagai anak yang tuna laras dan retardasi mental, emosinya tidak stabil sehingga sebaik mungkin aku menghindari pertikaian sekecil apapun, untuk menjaga perasaanya yang sensitif. Sementara aku sendiri adalah anak yang Tuna rungu wicara.
Kami berteduh pada sebuah pohon rindang untuk istirahat sejenak, dan menyantap sebungkus pecel yang kami beli di warung pinggir jalan. Kami menghisap putung rokok yang dipungut bayu dari permukaan aspal. Asap tebal membumbung ke udara, menggapai gundukan awan yang menutup sebagian langit, mataharipun masih buas memancarkan sinarnya.
Sekian lama kami tak membuka pembicaraan. Aku sibuk dengan berbagai macam warna-warna di kepalaku, tentang lukisan, permusuhan dan masa depan. Terkadang aku berharap untuk hidup secara normal dengan orang lain, tapi dengan keterbatasanku, rasanya merekapun sulit menerimaku. Terlebih bayu, ia sendiri sudah menjual dua sepeda selama di asrama, dan beberapa teman-temanku juga sering berdarah-darah karena kelakuanya. Aku hanya bisa berharap dan selalu berharap, agar dendamku dengan kedua orang tuaku hilang sama sekali dalam pikiranku.
“Nah, ketemu! Kapur tulis itu ada dikantor dan masih terbungkus di dalam kotak” Aku tersentak dengan ucapan bayu yang sempat nyaring di telingaku, tapi aku tak menanggapinya dengan serius.
Seharusnya aku lebih dewasa untuk menyikapi nasibku yang sudah digariskan oleh Tuhan. Dia menempatkanku di komunitas yang aneh, terkadang aku merasa lebih hebat dan normal seperti Satpam asrama, tapi tetap saja aku sejenis dengan mereka.
“Bagaimana meletakkan kapur itu dekat dengan papan tulis” kembali bayu menyela lamunanku.
“Letakkan saja di sampingnya “ujarku dengan malas. Bayu mulai berpikir untuk menempatkan kapur tersebut dekat dengan papan tulis. Dia berharap guru-gurunya akan lebih dekat untuk mengambil kapur tersebut jika akan menulis atau menggambar. Ia menggambar sketsa dihamparan tanah di hadapanku, lalu ia mulai mengaduk-aduk kaleng bekas yang ia curi di warung. Sementara aku masih sibuk melayani pertanyaan -pertanyaan yang ada di pikiranku. Sesekali aku membantu bayu untuk meluruskan garis yang menceng di tanah.
“Ini kurang kayu penyanggah” sambil aku membenahi sketsa bayu.
“Di sekolah kita nggak pakai kayu, tapi pakai tambang sapi!”
Aku hanya tersenyum mendengar penegasanya, sesekali meliriknya yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Dia berlari ke tengah lapangan kecil yang ada di depan kami, setelah beberapa menit dengan tergopoh-gopoh dia membawa kantung plastik yang agak berat lalu meletakkannya di depan lukisanya.
“Apa yang kau bawa?”
“Teletong sapi!”
“Untuk apa?” aku mulai penasaran.
“Biar papan tulis ini berwarna hitam!”
Aku agak terperanjak mendengar jawaban Bayu yang aneh, tapi dengan cepat aku palingkan pikiranku pada objek lain yang lebih penting. Pada lukisan di asrama. Aku hanya teringat sayap Peri yang belum aku selesaikan dalam lukisanku di lemari bayu.
Buru - buru aku berlari sekencang mungkin meninggalkan Bayu dan melepas kebencian dan dendam yang sudah lama mengendap di dadaku. Aku menuju asrama dan mengambil kembali takdirku. Aku ingin tetap bersama temen-temanku yang sejenis. Aku juga sudah menemukan sayap Capung di bawah pohon rindang. (*)
Ruang ini tidak terlalu ramai karena sebagian besar kawan kawanku pergi ke luar pagar untuk membeli susu kaleng yang sudah kedaluarsa atau mencuri buah di perkampungan. Jendela-jendelanya pun sebagian besar sudah dimakan Nonor hingga serbuk-serbuk berjatuhan menerpa kasur dan bantal yang berwarna hitam bekas iler dan umbel. Sementara anak perempuannya saling bercerita tentang pelecehan-pelecehan yang sering terjadi terhadap mereka.Di wajah mereka jelas terlihan ekspresi ketakutan dan rasa sedih yang mendalam. Beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar asrama sudah mengetahuinya, tapi selalu diam dan menyembunyikan informasi tersebut. Mereka beranggapan hal seperti itu tak perlu dibesar-besarkan , karena anak-anak itu rasanya pantas diperlakukan seperti itu, sebab kebodohan dan kecacatan mereka sendiri. Toh tidak memberi keuntungan bagi mereka.
Semilir angin mnyentuh seluruh ruang ini. Hingga wajaku pun terasa sejuk dielusnya. Aku mulai mencurahkan perhatianku pada sebuah kanvas yang sudah siap kulukis, kuas demi kuas sudah kupakai menghias sebagian lukisan itu. Kerangka lukisan pun sudah nampak jelas berwujud.
Tiba tiba bayu mengguyurkan seluruh cat yang ia aduk di atas lukisanku
“Hei! Kau merusak lukisanku, itu kan cat hitam!”
“Memang harus hitam!”
“Tapi aku tidak butuh warna ini…”
“Aku membutuhkanya, juga kanvas ini!” ia menarik paksa kanvas itu ke hadapanya. Bercak cat muncrat ke mana-mana , hampir sebagian besar tempat dudukku tersiram cat hitam, bahkan baju yang kukenakan bersimbah cat.
Aku membiarkannya menguasai kanvas tersebut, karena hal seperti ini sering sekali terjada pada kami. Ketika makan bersama kami saling melempar air atau kuah sayur yang agak basi. Aku berusah melupakanya dan mengingat kembali sketsa lukisan yang sudah kutuangkan dalam kanvas itu. Lalu ide itu aku tuangkan pada sebuah lemari yang sudah tidak layak pakai. Pakaian-pakaian yang ada didalamnya pun aku lempar keluar. Lemari itu milik Bayu, setidaknya aku bisa membalas perlakuanya kepadaku dan melepas semua kejengkelan yang tertahan.
Aku mulai menggambar seluruh angan-angan yang masih tertinggal di kepalaku, Peri kecil dengan sayap yang sebelah kanan patah, ia setengah meringkuk di kuntum mawar yang sedang merebak pada sebuah lemari yang terkoyak.
Dipan patah dan papan rapuh di gudang belakang aku benahi untuk menyempurnakan lukisanku.
Diam-diam Bayu melirik lukisanku, ia menganggap lukisan itu seekor capung yang sedang menghisap sari. Aku membantahnya dan menjelaskan ide lukisan yang sedang aku kerjakan. Tapi dia menyangkal bahkan mulai marah. Kami pun bertengkar kembali dan saling lempar cat, hingga lantai dan tembok ruangan itu blepotan penuh cat membentuk lukisan-lukisan abstrak yang tak dapat dijelaskan. Aku terbiasa mengalah pada kawan-kawanku, karena mengingat umurku paling tua dan aku tinggal paling lama di asrama. Akhirnya aku putuskan untuk tidak berhubungan dengan bayu dalam melukis apapun, pendapatnya yang ngawur dan ingin menang sendiri, sering membuatku kesal.
Aku benahi lukisanku pada lemari itu, penuh taburan warna acak, penuh goresan luka-luka di permukaan, meyerupai asrama yang aku tinggali.
Ada sepotong lukisan yang tidak dapat aku tuangkan pada lemari, ada perasaan sunyi yang tiba tiba menyergap diriku, tubuhku menggigil dicengkram rasa benci dan dendam. Lalu aku mengurung diri di kamar mandi, untuk melewati kepenatan yang merubung kepalaku. Sebab di luar pun aku masih dikurung oleh pagar tembok yang tinggi. Berjam-jam aku sendiri di kamar mandi, tapi tak seorangpun yang peduli, hanya untuk sekadar mengetuk pintu buang air kecil atau mendobraknya karena menahan tinja, kurasa mereka mengira aku ingin bunuh diri? setelah melihat perkelahianku tadi pagi dengan bayu.
Akupun meronta menghujat Tuhan dan mendobrak pintu, lalu melompat pagar, berlari melepas diri dari takdir yang tidak bersahabat. Tuhan rasnya tidak adil kepadaku, kenapa Ia ciptakan aku dalam bentuk seperti ini.aku tak dapat bicara bahkan menyusun kalimat seperti kawan-kawanku yang normal.
“Pasti kau akan kembali untuk mengambil lukisanmu” ujar bayu yang tiba-tiba mengejarku dengan sepeda buntut. Rupanya bayu membuntutiku. Bahkan mengawasiku sejak dari kamar mandi.
Akupun kelelahan berlari sedemikian jauh.Kurebahkan diri pada sebuah lincak di pinggir jalan.kulihat samar-samar bayu tetap memburuku, hingga aku pun tak dapat menolak kehadiranya menemaniku. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikanya.tapi karena terlalu lelah ia pun urung menyampaikannya. Ia tetap diam bahkan menyelonjorkan kakinya lalu rebah di sampingku.
Kami berdua sangat lapar dan haus. Tapi tak sepeser pun uang yang tersisa di kantung celana sebab sudah habis kami belikan berbagai cat dan kanvas untuk keperluan melukis. Sebenarnya kami mendapat beasiswa yang cukup besar, tapi ibu asrama terlampau rakus dan tamak terhadap uang tersebut, sehingga kami pun tak jarang mencuri uang dan peralatan mandi milik kawan sendiri, bila tidak ada kiriman dari orangtua.
Aku dan bayu bersepakat menjual sepeda milik satpam asrama untuk makan dan perjalanan kami. Mencari arah yang tepat, menapaki waktu yang tertutup kabut menelusuri aspal-aspal pecah, menggapai masa depan yang sekian lama hilang. Aku setengah berbisik kepadanya.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Aku tidak mengikutimu”jawabnya lantang.
”tapi kau berada di sini?”
“aku mengikuti lukisan yang ada dipikiranmu”
Agaknya ia tahu bagian lukisan yang belum kuselesaikan. Tapi aku nyelimur agar dia tidak mengungkit kekurangan lukisan itu.
“Sudah kutuangkan di lemarimu semuanya!” aku coba menegaskannya.
“Masih ada yang kau sembunyikan” bayu memburu.
Aku diam sejenak , rasanya enggan untuk memberitahukan bagian lukisanku yang kurang.
“Aku hanya menyisakannya untuk perjalanaku. Sayap Peri kecil yang sebelah kanan masih belum aku temukan…”
“Ya, itu yang aku cari, sayap Capung yang sebelah kanan”
“Itu bukan Capung.! Capung tidak menghisap sari mawar”
“Peri juga tidak menghisap sari mawar”ia membantah.
“Dia tidak menghisap sari mawar tapi menghirupnya” aku mencoba memberitahunya dengan nada melamban.
Bayu pun terdiam agaknya ia mulai sedikit paham dengan penjelasanku tentang lukisan di lemarinya.
Kami melanjutkan perjalan menyusuri petakan sawah dan gundukan tanah yang cukup luas, hingga menjupai jalan berbatu cadas sebesar kepalan tangan kami. Matahari sangat terik siang itu sampai-sampai beberapa petani berteduh di gubuk-gubuk yang sudah reot,s ebagian kecil hanya meratakan galengan yang banyak ditumbuhi rumput.
Hidup macam apa sesungguhnya yang aku jalani ini? bertahun-tahun dikurung pagar tembok yang cukup tinggi, jauh dari keramaian dan pergaulan, apakah Tuhan sengaja menghukumku sehingga aku dikurung di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dikelilingi hamparan sawah dan ladang, agar aku tersadar dari sifat-sifat buruk yang sejak kecil nampak membatu di tubuhku. Tapi aku ingat sekali bapakku yang melakukan semua ini, dia telah membuangku di desa yang terpencil. Karna perbuatanya dengan ibuku, mereka menghindari azab Tuhan lewat diriku, padahal harusnya mereka yang dibuang tapi kenapa aku?. Sejak saat itu aku sudah membuka permusuhan dengan orang tuaku, aku tidak memiliki bapak dan ibu, aku lahir dari rahim Tuhan, dari kesenangan-Nya, lalu aku menjadi bagian dari permainan orang-orang dungu yang tamak dan serakah sebagai bahan eksploitasi untuk keuntungan mereka yang mengabdi pada kebutuhan strata sosial dan eksistensi.
“Hei bagaimana dengan lukisanmu?”aku menyela percakapan dalam pikiranku. Aku lihat sejak tadi bayu termenung cukup lama.
“Sebenarnya masih ada yang kurang dari lukisanku”
“Apanya yang kurang?, cat hitam itu sudah kau tuangkan semua dalam kanvas”
“Papan tulis itu ada kapurnya!”. Bayu menegaskan idenya sambil mengusap hidungnya yang penuh ingus.
Aku hanya terdiam, mengangukkan kepala. Bayu adalah anak yang teridentifikasi sebagai anak yang tuna laras dan retardasi mental, emosinya tidak stabil sehingga sebaik mungkin aku menghindari pertikaian sekecil apapun, untuk menjaga perasaanya yang sensitif. Sementara aku sendiri adalah anak yang Tuna rungu wicara.
Kami berteduh pada sebuah pohon rindang untuk istirahat sejenak, dan menyantap sebungkus pecel yang kami beli di warung pinggir jalan. Kami menghisap putung rokok yang dipungut bayu dari permukaan aspal. Asap tebal membumbung ke udara, menggapai gundukan awan yang menutup sebagian langit, mataharipun masih buas memancarkan sinarnya.
Sekian lama kami tak membuka pembicaraan. Aku sibuk dengan berbagai macam warna-warna di kepalaku, tentang lukisan, permusuhan dan masa depan. Terkadang aku berharap untuk hidup secara normal dengan orang lain, tapi dengan keterbatasanku, rasanya merekapun sulit menerimaku. Terlebih bayu, ia sendiri sudah menjual dua sepeda selama di asrama, dan beberapa teman-temanku juga sering berdarah-darah karena kelakuanya. Aku hanya bisa berharap dan selalu berharap, agar dendamku dengan kedua orang tuaku hilang sama sekali dalam pikiranku.
“Nah, ketemu! Kapur tulis itu ada dikantor dan masih terbungkus di dalam kotak” Aku tersentak dengan ucapan bayu yang sempat nyaring di telingaku, tapi aku tak menanggapinya dengan serius.
Seharusnya aku lebih dewasa untuk menyikapi nasibku yang sudah digariskan oleh Tuhan. Dia menempatkanku di komunitas yang aneh, terkadang aku merasa lebih hebat dan normal seperti Satpam asrama, tapi tetap saja aku sejenis dengan mereka.
“Bagaimana meletakkan kapur itu dekat dengan papan tulis” kembali bayu menyela lamunanku.
“Letakkan saja di sampingnya “ujarku dengan malas. Bayu mulai berpikir untuk menempatkan kapur tersebut dekat dengan papan tulis. Dia berharap guru-gurunya akan lebih dekat untuk mengambil kapur tersebut jika akan menulis atau menggambar. Ia menggambar sketsa dihamparan tanah di hadapanku, lalu ia mulai mengaduk-aduk kaleng bekas yang ia curi di warung. Sementara aku masih sibuk melayani pertanyaan -pertanyaan yang ada di pikiranku. Sesekali aku membantu bayu untuk meluruskan garis yang menceng di tanah.
“Ini kurang kayu penyanggah” sambil aku membenahi sketsa bayu.
“Di sekolah kita nggak pakai kayu, tapi pakai tambang sapi!”
Aku hanya tersenyum mendengar penegasanya, sesekali meliriknya yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Dia berlari ke tengah lapangan kecil yang ada di depan kami, setelah beberapa menit dengan tergopoh-gopoh dia membawa kantung plastik yang agak berat lalu meletakkannya di depan lukisanya.
“Apa yang kau bawa?”
“Teletong sapi!”
“Untuk apa?” aku mulai penasaran.
“Biar papan tulis ini berwarna hitam!”
Aku agak terperanjak mendengar jawaban Bayu yang aneh, tapi dengan cepat aku palingkan pikiranku pada objek lain yang lebih penting. Pada lukisan di asrama. Aku hanya teringat sayap Peri yang belum aku selesaikan dalam lukisanku di lemari bayu.
Buru - buru aku berlari sekencang mungkin meninggalkan Bayu dan melepas kebencian dan dendam yang sudah lama mengendap di dadaku. Aku menuju asrama dan mengambil kembali takdirku. Aku ingin tetap bersama temen-temanku yang sejenis. Aku juga sudah menemukan sayap Capung di bawah pohon rindang. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)